Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

Thursday, April 12, 2007

Anak adalah harta yang tidak ternilai! - Jangan Pernah Paksa Anak!

Jangan Pernah Paksa Anak! :.
:: 23 Januari 2006 ::


Anak adalah harta yang tidak ternilai!
Begitulah yang sering kita dengar dari mulut para orang tua (yang sudah punya anak tentunya). Tak heran, banyak yang begitu “menjaga” bahkan sangat “memanjakan” dengan harapan, anak bisa bahagia, gembira, dan tentu saja kelak bisa menjadi manusia yang berguna. Harapan yang ideal bukan?
Anak bukanlah robot yang bisa diatur kesana-kemari seenaknya. Anak bukan seperti televisi, yang bisa dipindah-pindahkan channel-nya hanya dengan menekan remote control. Ada yang mengatakan, anak seperti keramik. Jika pecah, susah untuk merekatkannya kembali. Lalu bagaimana orang tua sebaiknya memperlakukan anak? Benarkah anak sekarang punya potensi sebagai pemicu konflik?
Gampang-gampang susah bukan menjawabnya? Bagaimana pendapat ahli tentang posisi anak dan bagaimana orang tua harus menempatkan posisinya? Rasanya tidak salah kalau Warta Plus Bethany mewawancarai seorang Dra. Lisa Nathalia, M.S., Ph.D., Direktur HRD Indonesia dan Eaglewan Institute. Ditemui di kantornya yang bersih, ibu dari Siska, Dimas dan Amel ini, menjawab dengan santai, kadang diselingi dengan tawanya yang renyah.
Berikut petikan bincang-bincangnya.
Bagaimana orang tua seharusnya menempatkan anak dalam keluarga?
Kalau berkaca dari keadaan sekarang ini, sebaiknya orang tua tidak terlalu memaksakan kehendaknya kepada anak. Banyak kasus yang orang tua ingin anaknya menurut pada kehendak dan keinginan orang tua, akhirnya anak malah berontak. Berikan sedikit kebebasan untuk memilih dan mengambil keputusan sendiri.
Kapan sebaiknya anak diberi kebebasan untuk memilih dan mengambil keputusan sendiri?
Yang harus diberikan sejak dini sebaiknya adalah kedisiplinan. Penerapan kedisiplinan dalam keluarga bisa melalui aturan-aturan dalam rumah tangga. Anak harus diajar memahami aturan dan menaati aturan dalam keluarga. Ini akan membentuk karakter anak.
Terus kapan anak mulai diberi kebebasan?
Biasanya tuntutan kebebasan mulai muncul ketika anak menjelang usia remaja. Mereka mulai ingin mengambil keputusan sendiri. Sebagai contoh dalam menentukan sekolahnya. Sebaiknya orang tua lebih bijak dalam memberikan pilihan bagi si anak. Orang tua harus memahami apa sebenarnya bakat dan minat si anak.
Seberapa pentingkah itu?
Banyak kasus yang akhirnya memunculkan konflik. Banyak anak frustasi karena paksaan orang tua dalam memilih sekolah atau jurusan tertentu. Akibatnya si anak tidak bisa mengembangkan diri dan kemampuannya. Gejala ini terlihat ketika menjelang kelulusan sekolah atau wisuda. Si anak menjadi lega karena sudah menuruti kemauan dari orang tua. Jadi permasalahan ini mesti dikomunikasikan antara kemauan anak dan orang tua.
Sebagai bangsa timur bukankah berkomunikasi dengan orang tua secara terbuka itu sulit?
Ini bukan masalah budaya saja. Memang kalau di kalangan kita, jika orang tua punya usaha maka bisa dipastikan orang tua menghendaki anaknya akan mewarisi usahanya tersebut. Tetapi sekarang ini tuntutan dan arah perkembangan jaman menghendaki agar ada keterbukaan di dalam keluarga. Lebih demokratis. Apalagi kalau mau mendidik anak dengan benar. Jadi kalau sudah masalah sekolah dan masa depan si anak, sebaiknya orang tua melibatkan anaknya. Anak perlu diajak bicara. Mereka boleh memiliki masa depan yang juga merupakan impian mereka. Kita sebagai orang tua tidak ada salahnya mendukung impian si anak. Malahan ini merupakan keharusan.
Lalu sejauh mana intervensi orang tua diperkenankan?
Kalau secara ilmiah sih tidak ada ukuran tingkat intervensi orang tua dalam kehidupan anak. Meski kenyataannya di Indonesia banyak ditemukan fakta dan data kalau intervensi orang tua terhadap anaknya sangat kuat. Yang terbaik adalah dengan melihat karakter anaknya terlebih dahulu. Kalau si anak bertipe kurang inisiatif dan cenderung pendiam maka intervensi atau pengaruh orang tua sangat diperlukan. Tetapi kalau si anak memiliki inisiatif dan aktif, lebih baik orang tua tidak banyak campur tangan. Karena kalau orang tua ikut campur bisa jadi si anak malah berontak dan jadi frustasi. Banyak kasus kalau anak marah pada orang tua maka larinya adalah ke narkoba. Karena ia ingin melampiaskan dengan cara menyakiti orang tuanya. Ini adalah bagian dari ungkapan kesakitan si anak. Ini semua bisa terjadi karena orang tua kurang memahami si anak.
Bagaimana supaya orang tua tahu dan mampu mengembangkan minat serta bakat anak?
Kuncinya ya belajar. Orang tua harus mau belajar bagaimana mengenali bakat dan minat anaknya. Karena ini bisa dipelajari. Misalkan dengan banyak membaca buku-buku psikologi terapan yang berkaitan dengan permasalahan minat dan bakat anak. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana membuat anak agar selalu happy. Banyak kasus dimana orang tua mengikutkan anaknya pada beragam kegiatan pasca jam sekolah, baik berupa les atau kursus sampai si anak tidak punya lagi waktu untuk bermain atau mengembangkan diri. Ini tidak baik bagi perkembangan si anak ke depan.
Lho, banyak kegiatan kan bagus buat anak?
Kalau si anak punya kegiatan yang sangat padat di luar jam sekolah kemudian sampai malam, maka si anak akan cepat lelah dan bisa mengalami stress berat. Alasan orang tua masuk akal juga karena dengan memberi les tambahan, harapannya si anak bisa jadi juara kelas. Tetapi kenapa tidak dipilih saja pelajaran mana si anak yang lemah atau kurang. Jadi tidak usah semua pelajaran. Kalau sudah stress si anak tidak lagi merasa senang atau nyaman.
Berkaitan dengan masalah bakat dan minat, bagaimana pula mengembangkan Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual(SQ) pada anak yang belakangan lagi marak?
Berdasarkan pengalaman, yang lebih menentukan masa depan seorang anak adalah Kecerdasan Emosional atau EQ dan Kecerdasan Sepiritual atau SQ. Maka sejak dini EQ dan SQ ini juga harus diperhatikan perkembangannya. Kenyataan memberikan bukti banyak manajer-manajer atau pimpinan perusahaan atau organisasi yang tidak berani mengambil resiko atau berubah. Demikian juga dengan jumlah pelamar pegawai negeri yang tidak pernah berkurang. Ini menunjukkan orang hanya menginginkan kenyamanan alias keamanan. Sikap demikian menggambarkan bahwa mental kita itu masih penakut. Tidak berani mengambil resiko.
Mengapa mental penakut atau tidak berani mengambil resiko itu sampai muncul?
Ini sangat berkaitan dengan masa kecil dimana masa anak-anak bertumbuh dan berkembang. EQ dan SQ akan bertumbuh-kembang dengan baik dalam sebuah keluarga yang penuh keterbukaan. Karena mengembangkan emosi amat berkaitan dengan perasaan. Bagaimana ia merasa dihargai dan dibutuhkan oleh anggota keluarga yang lain. Kemudian yang sering turut menghambat adalah banyaknya aturan-aturan dari orangtua maupun lingkungannya seperti sekolah yang harus dipatuhi. Di satu sisi aturan ini baik, tetapi juga bisa membuat anak kehilangan keberanian untuk kesana atau kesini. Di kemudian hari kondisi demikian akan mempengaruhi kemampuan dalam pengambilan keputusan. Ada kepatuhan tetapi tidak mandiri.
Kemudian bagaimana mengembangkan Kecerdasan Spiritual (SQ) anak?
Langkah yang sangat sederhana dalam mengembangkan SQ anak misalkan dengan memberikan ayat-ayat Alkitab yang aplikatif sehingga bisa menjadi pegangan bagi si anak. Hal yang mungkin kurang kita perhatikan adalah bahwa alam bawah sadar kita bisa dipengaruhi kalau diperdengarkan sesuatu secara terus menerus dan berulang-ulang. Lagu bisa dijadikan contoh kasus ini. Kalau kita atau anak-anak sering mendengarkan lagu rohani maka secara tidak sadar kita selalu teringat akan syair dan lagu tersebut. Sehingga akan meresap dan ikut mengontrol tindakan kita. Jadi kalau anak suka mendengarkan lagu-lagu rohani itu sangat positif.
Hal lain yang ikut mempengaruhi perkembangan SQ anak?
Yang utama dan terpenting adalah orang tua harus memberikan contoh perilaku yang fair kepada anak. Karena anak-anak juga tahu dan merasakan kalau orang tua berbohong. Orang tua juga harus bersikap adil dan terbuka kepada anak. Tidak menyembunyikan sesuatu.
Dalam keluarga, bagaimana memberikan kasih sayang secara adil bagi anak-anak?
Orangtua jangan sekali-kali membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lainnya. Karena bisa menimbulkan dendam atau iri di antara anak. Akan muncul tembok penghalang komunikasi yang besar. Ini akan terbawa sampai mereka besar. Si anak tidak menjadi apa yang diinginkannya tetapi ingin meniru saudara yang disayang oleh orang tuanya. Kalau dia gagal, maka anak akan frustasi. Maka dia akan menjadi bayang-bayang bagi saudaranya itu. Tetapi berlaku adil bagi anak bukanlah seperti kalau si A dapat sepatu baru maka si B mendapat sepatu juga. Melainkan membelikan sesuai dengan kebutuhan. Kalau si A butuh baju maka dibelikan baju, kalau si B butuh sepeda ya sepeda. Dan disampaikan kepada anak kalau ini namanya menyayangi sesuai dengan kebutuhan. Pengaruh psikologis perbedaan kasih sayang sangat besar bagi seorang anak. Jangan sampai anak merasa kurang dikasihi dibanding kakak atau adiknya.
Tetapi bagaimana dengan orang tua yang sibuk, misalkan seperti ibu Lisa sendiri?
Dalam keluarga yang utama adalah memberikan perhatian kepada anak. Saya misalkan kalau bertemu dengan anak-anak, saya selalu bercerita apa yang saya kerjakan. Bahkan saya melibatkan mereka dalam pekerjaan. Ada yang saya minta untuk bantu menerjemahkan. Ini sengaja saya lakukan agar anak juga memahami apa dan bagaimana pekerjaan saya. Kemudian kalau ada waktu senggang, biasanya akhir pekan, kami sekeluarga jalan-jalan atau makan malam bersama. Kalau pas di Surabaya ya tiap malam makan malam bersama. Ini untuk menjaga kebersamaan di keluarga. Nah kalau pada akhir pekan saya berhalangan maka ya harus dicari hari penggantinya. Bahkan kadang saya ikut dalam kegiatan mereka. Kalau perlu ikut pula ke lapangan melihat mereka main sepak bola. Meski baju kotor kena tanah. Ini tidak masalah asal anak dan kita orangtua bahagia.


No comments: